Rabu, 01 April 2009

Masyarakat Miskin ; Pemenuhan Hak dan Politisasi Kebijakan (1)

Telah 2 isu besar dalam penanggulangan kemiskinan yang dibahas di Pemda Kabupaten Magelang. Syahdan, kesehatan dan pendidikan adalah sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak sehingga urgen untuk selalu diatur dan dianggarkan dalam jumlah besar. Namun benarkah slogan pendidikan dan kesehatan gratis telah memenuhkan kewajiban negara atas hak dasar rakyatnya.
1. Ada yang menarik dari sisi perundangan, tidak pernah UU.11 tahun 2005 ttg Ratifikasi Hak-hak ECOSOC digunakan sebagai konsideran dalam penyusunan Perda maupun Perbup. Mari kita lihat sebagai pilihan kebijakan akan sebagai pemenuhan hak dasar atau kebijakan politik?
2. Masih rancu antara hak warga negara sebagai keseluruhan dan afirmasi terhadap kelompok miskin. Logikanya, bila memenuhi hak dasar maka Pemerintah akan generalis dalam sektor pendidikan (dasar) dan kesehatan (dasar). Setiap warga negara dijamin, walaupun akan menimbulkan perdebatan bahwa yang kaya akan diuntungkan (universal coverage). Tapi bayangkan bahwa semua warga negara membayar pajak dan pembiayaan pembangunan adalah redistribusi tax-fund. Atas kontribusi sebagai kewajiban warga negara, Pemerintah wajib menyediakan pelayanan publik dasar. Yang akan membedakan kaya dan miskin adalah kemampuan memilih pelayanan yang lebih baik.
2. Pilihan terhadap isu pendidikan dan kesehatan yang massif adalah pilihan politik kebijakan yang digunakan sebagai menu utama kampanye politisi. Sampai-sampai seolah-olah semua gratis. Namun kenyataannya, biaya pendidikan makin mahal, kesehatan hanya milik orang berduit. Ada dimana kesenjangannya?
3. Bagaimana posisi masyarakat miskin? Apakah akan selalu menerima kebijakan karitatif dan dipersoalkan eksistensinya dalam daftar indikator dan siapa yg melakukan pendataan?

(bersambung)

Selasa, 06 Januari 2009

Memindahmu dalam Energi Baru


Cinta itu seperti energi, ia tak pernah hilang, hanya berpindah ruang dan waktu (diadaptasi dari teori Newton)

Terhitung lama kusua kembali lintasan peristiwa bersamamu. Sesuatu yang harusnya terkubur dalam ujung masa, namun ternyata tidak. Fase hidupku bersamamu tetaplah berkontribusi atas aku sekarang. Saat ini, aku ingin mengucap terima kasih atas semua dedikasi cintamu(saat itu) padaku, kerelaan berkorbanmu dan menemani saat ujung studiku hingga paripurna. Aku sudah tak mampu menghitung berapa batang Silverqueen yang kau beri, pelukan yang menenangkanku, senyum terindahmu untukku, MU dan AC Milan big fans (sayang kita sudah berpisah, sebelum mewujudkan mimpi kita nonton MU di Old Trafford but I will...). Tiba-tiba aku ingin mengenang keindahanmu..

Entah mengapa aku baru dapat mengenangkan salah satu hal terbaik yang aku dapatkan dalam perjalananku, mungkin selama ini tertutup oleh kesakitan yang kau buat. Begitu merejam hingga aku tak dapat lagi melihat sisi terbaik yang (juga) pernah kita lalui. Ujung cerita itu yang senantiasa terngiang dalam wajah kebencianku, luka yang teramat dalam dan rasa bersalah yang tak kunjung usai.

Aku pernah berada dalam 2,5 tahun bersamamu. Mencoba setiap jalan yang ditempuh pecinta untuk selalu memiliki. Memberontak, mencoba terus bergandengan hingga takdir melepaskan genggaman kita. Aku, kamu, terluka dengan sudut yang berbeda. Aku tak mau ingkar akan derita yang membayangi setelah itu. Namun, derita itu adalah salah satu obat yang harus kutelan, untuk melanjutkan perjalanan ke terminal berikutnya.

Melupakanmu adalah agenda utamaku, hingga aku menemukan cinta pada ruang, waktu dan insan yang berbeda. Aku salah, tidak ada yang harus dilupakan seperti amnesia. Kamu adalah kamu dengan semua sisi, orang yang pernah sangat kucintai dan kubenci. Yang pernah membuatku sangat bahagia sekaligus nestapa. Kamu adalah sisi terang dan gelap, yang suatu hari nanti menjadi sisi terang dalam hikmah yang tercantum dalam cerita dan skenario-Nya.

Dan aku tak lagi membandingkan setiap pasanganku denganmu lagi...Kulanjutkan perjalananku, menemukan cinta kembali, karena aku adalah pecinta..

Utk DIBS...2001-2004


Jumat, 12 Desember 2008

Jika Cinta itu Salah, Maafkan Dia


Because of you, I learn to play on the safe side so I don’t get hurt

I lose my way and its not to long before you point it out

I can not cry because you know that the weakness in your eyes

I’m force to fake a smile a life everyday of my life

……Kelly Clarkson

Menghitung kembali 2 minggu kepenatan otak atas lalu lintas masalah yang riuh di dada dan otakku..bisa jadi memang aku harus masuk ke lingkaran kalian yang ternyata merembetkan lara.

Siapa pemilik sah cinta, nafsu, dan keinginan memiliki. Kapan cinta datang tiada yang tahu apalagi pada siapa, sehingga permakluman akan terjadi saat panah cinta menancap pada orang yang tidak “available”.Ah, aku juga beberapa kali menjalani cinta dengan lelaki “yang tidak tepat”. Aku mentertawakan diri untuk itu ha ha ha. Bagaimana cinta bisa memilih orang, memang bisa diperdebatkan, seorang kawan mengatakan don’t ever love beyond your rationality. Aha, pahamnya Tiffany, If Love is Blind tidak diperkenankan pada mahzab ini. Di sisi lain, seperti Kahlil Gibran sangat memuja Selma Karami pasti beraliran cinta itu cinta yang tak bisa memilih siapa alias tidak bisa seperti memilih trayek busway yang pasti berangkatnya dari mana dan turun dimana.

Nah, kalau nafsu dan cinta apa hubungannya ya. Pada suatu masa, aku merasakan chemistry yang luar biasa secara ágape dengan seseorang, tapi aku tak merasakan keinginan untuk menyentuhnya secara fisik. Kalau dalam istilahku sekarang adalah post-material. Aku bertanya Is that Love? Beberapa pelajaran membuktikan bahwa cinta bisa menimbulkan nafsu,tapi Belum tentu nafsu menimbulkan cinta. Memiliki cinta dan nafsu tentu melahirkan anak baru yang bernama keinginan memiliki.

Cinta anak muda pasti meniscaya kata-kata yang menyasar pada memiliki, alias juga sense of belonging. Betapa sense of belonging itu besar atau kecil dia akan membawa teman yang namanya possessiveness.

Cinta yang tak kenal orang dan alamat itu bisa menjadi bencana pula bila keruwetannya melebihi kabel jeringan PLN dan Telkom yang dibongkar pasang. Ruwet masalah status, pertanyaan cinta atau nafsu bla bla bla. Pertanyaan mendasarnya adalah..happiness. Jaden Smith yang main film dengan ayahnya Will Smith dalam Pursuit of Happiness begitu bahagia dalam “mentertawakan penderitaannya”, then they became rich..and of course happy. Rasa itu menyaring semua simpul suka senang sedih pahit manis menjadi sintesa happiness. Happiness doesn’t mean only happy, in my opinion. Kalau mencintai dan bahagia dalam keadaan apapun (menderita sekalipun). Kita akan dengan gagah berani mengatakan “ya, aku bahagia”.

Menengoklah sisi terdalam hati kenapa mencintai, sehingga tidak akan ada pernyataan sesal walau entah kemana wujudnya cinta juga sering pergi dan datang tanpa diduga. Kalau cinta itu salah, berilah maaf dia berkali-kali. Hingga siap menyongsong cinta lagi dan bravely to say “I am ready for my future”..karena driven itu ada di tangan kita. Kalau cinta dianggap sudah mati, berilah salam perpisahan pada hari kematiannya tapi siapkan juga hati untuk menanti kelahirannya kembali.



Someday, Saturday Night 16 August 2008

Kamis, 20 November 2008

Welcome to Rainy Season..

Setelah mendahului yang mestinya datang, musim hujan telah merambahkan luapan yang siap menjadikan beberapa daerah banjir. Musim yang tak lagi on time (mungkin karena kebiasaan orang Indonesia yang molor he he), berefek setidaknya pada guru geografi yang harus merubah teks pelajaran, soal ulangan tentang rentang waktu musim yang tentunya akan expired seiring dengan perubahan iklim. Ah, petani dan nelayan pasti juga akan perlu menyusun ulang kalender musimnya..ya, salah satu syarat untuk survive dalam hidup adalah adaptasi..
Banjir, setidaknya mengagetkan ketika terjadi juga di Ungaran, yang pada sekitar 1990-an menjadi tempatku bersekolah. Tempat yang terkenal hijau, namun tergerus developmentalism alias tebang sana tebang sini demi "menjadikan lebih SERASI". Entah mengapa, para pengambil kebijakan selalu menganggap bahwa terbangunnya banyak infrastruktur adalah pencapaian yang hebat dalam memamerkan kemajuan daerah. Setidaknya mikir simple..beberapa tahun ke depan apa yang akan terjadi bila kawasan hijau tergadai oleh hasrat menaikkan PAD? Banjir, longsor..tentu bencana yang tak termitigasi akan menimbulkan ongkos yang lebih tinggi dalam penanganannya..